Pengolahan Sampah Melalui 4R ( REDUCE , REUSE,REPLACE,RECYCLE )

Dalam pengolahan sampah kita harus lah bijak serta menerapkan 4R,apa saja 4R itu mari kita simak :

  • Reduce adalah mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah atau meminimalisir sampah,contoh saja dengan :
  • Menggunakan botol minum yang bisa dicuci tidak sekali pakai
  • Menggunakan tas belanja serta mengurangi tas kresek
  • Mengurangi jajan yang menggunakan kemasan plastik atau membawa bekal dari rumah
  • Reuse adalah menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan ,contoh
  • Menggunaan bekas botol minum untuk menanam bunga
  • Menggunakan bekas tempat cat sebagai pot untuk menanam bunga
  • Replace adalah suatu upaya penggantian atau memakai alternatif ,contoh :
  • Menggunakan sapu tangan untuk mengganti tissue
  • Mengunakan tas keranjang untuk mengganti tas kresek
  • Recycle adalah mendaur ulang sampah sampah menjadi barang – barang baru ,contoh
  • Membuat tas dari bungkus kopi
  • Membuat tikar dari anyaman bungkus detergen

Dalam hal ini kita harus bersikap kreatif serta inovatif dalam penangganan sampah yang menjadi masalah selama ini, jika kita tidak menanganinya maka akan menjadi problem bagi kita contoh saja dari bau yang ditimbulkan akan menyebabkan polusi udara belum lagi dari segi kesehatan sampah membawa ribuan kuman yang akan menimbulkan ribuan penyakit.Dari penangganan sampah yang tepat maka akan terciptanya lingkungan yang bersih dan jika penggolahan 4R berjalan akan menimbulkan lapangan kerja bagi masyarakat dan mengurangi pengangguran dan juga menambah profit dan benefit bagi masyarakat.

SAMPAH BERMUNCULAN DI SELOKAN MATARAM

Kekeringan mengakibatkan sampah sampah yang berada di sungai selokan mataram bermunculan dan ada yang menambahinya dengan membuang sampah disungai,masyarakat belum sadar betul  akan bagaimana cara mengolah limbah sampah.Mungkin perlu adanya sosialisai tentang bagaimana mengolah limbah agar dapat terkondisikan dengan tepat.Sehingga sampah tidak mencemari lingkungan apalagi sungai,dipandang matapun pemandangan seperti ini tidak etis dan bahkan mungkin jijik,sebenarya dalam mengolah sampah hanya perlu kesadaran dari sendiri untuk tidak membuang sampah disungai serta perlu kesadaran untuk memilah dan mengolah sampah tersebut.

Sampah yang dibuang kesungai akan sangat berpengaruh terhadap lingkungan jika dalam sungai tersebut terdapat ikan maka habitat nya pun akan terganggu , semisal dari limbah cairan detergen yang dibuang kesungai selain mencemari mungkin juga bisa membunuh anak ikan yang masih kecil kecil.Biasakan kita sebagai sumberdaya manusia harus bijaksana dalam berfikir dan bertindak.Dalam pengolahannya sampah  kita dapat memulai dari  :

  1. Membedakan / memilah sampah organik dan anorganik
  2. Sampah organik kita bisa gunakan menjadi pupuk (buang disawah,kebun) dan anorganik kita jual kepada bank sampah atau buat kreasi agar menjadi barang yang berguna

Perlu kesadaran bahwa kita harus memilah dalam membuang sampah serta membedakan mana yang sampah organik dan non organik sehingga dapat di proses dengan tepat,sebisa mungkin kita sebagai sumber daya manusia dapat mengurangi sampah tersebut dan menggunakan barang tidak sekali pakai, contoh saja menggunakan sapu tanggan untuk mengganti tissue, menggunakan botol yang bisa dicuci untuk mengganti botol sekali pakai.

Belajar mengelola sampah dari negara maju

Masalah sampah muncul seiring pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Data dari Lembaga Perlindungan Lingkungan AS (Environmental Protection Agency) menyebutkan, penduduk Amerika menghasilkan 250 juta ton sampah padat per tahun pada 2010. Bandingkan dengan jumlah sampah padat yang dihasilkan oleh penduduk Indonesia pada periode yang sama yang mencapai 56,3 juta ton pertahun.

Menurut data statistik Eurostat, setiap tahun, masyarakat Uni Eropa membuang 3 miliar ton sampah – 90 juta ton di antaranya adalah sampah beracun. Dari angka tersebut berarti, setiap pria, wanita dan anak-anak di Eropa membuang 6 ton sampah padat setiap tahun.

Namun menemukan cara mengelola dan membuang sampah – tanpa merugikan lingkungan – terus menjadi masalah besar di semua negara hingga saat ini. Di Eropa, kebanyakan dari sampah tersebut dibakar di tempat pembakaran sampah (incinerators) atau dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir (67%). Namun kedua metode ini sama-sama merusak lingkungan.

Kebutuhan lahan untuk lokasi pembuangan sampah terus meningkat. Sampah juga mencemari udara, air dan tanah, melepas karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4) ke udara, serta bahan kimia dan pestisida ke tanah. Hal ini membahayakan tidak hanya bagi kesehatan manusia, namun juga bagi hewan dan tumbuhan.

Amerika Serikat maupun Uni Eropa, berpegang pada tiga prinsip berikut untuk menangani sampah:

1. Mencegah produksi sampah

Strategi ini adalah yang terpenting dalam pola pengelolaan sampah yang sangat terkait dengan upaya perusahaan untuk memimimalisir kemasan dan upaya memengaruhi konsumen untuk membeli produk-produk yang ramah lingkungan.

Jika upaya ini berhasil – dengan bantuan media dan lembaga terkait – maka dunia akan bisa mengurangi sampah secara signifikan dan mendorong penggunaan bahan-bahan ramah lingkungan dalam setiap produk yang dikonsumsi oleh masyarakat.

2. Mendaur ulang dan menggunakan kembali suatu produk

Jika kita masih sulit untuk mencegah terciptanya sampah, langkah daur ulang adalah langkah alternatif yang bisa dilakukan untuk menguranginya.

Baik AS maupun negara Uni Eropa, mereka sudah menentukan jenis sampah apa saja yang menjadi prioritas untuk diolah dan didaur ulang, meliputi sampah kemasan, limbah kendaraan, beterai, peralatan listrik dan sampah elektronik.

Uni Eropa juga meminta negara-negara anggotanya untuk membuat peraturan tentang pengumpulan sampah, daur ulang, penggunaan kembali dan pembuangan sampah-sampah di atas. Hasilnya tingkat daur ulang sampah kemasan di beberapa negara anggota Uni Eropa mencapai lebih dari 50%.

Di AS, keberhasilan upaya daur ulang sejumlah produk juga sangat menggembirakan. Jumlah baterai (aki) kendaraan yang berhasil didaur ulang mencapai 96%. Jumlah surat kabar dan kertas yang berhasil didaur ulang ada di tempat kedua sebesar 71% dan sekitar duapertiga (67%) kaleng baja berhasil didaur ulang. Tantangan terbesar ada pada upaya mendaur ulang produk-produk elektronik konsumen dan wadah gelas. AS baru berhasil mendaur ulang seperempat (25%) dan sepertiganya.

3. Memerbaiki cara pengawasan dan pembuangan sampah akhir

Jika sampah tidak berhasil didaur ulang atau digunakan kembali sampah harus dibakar dengan aman. Lokasi pembuangan sampah adalah solusi terakhir. Kedua metode ini memerlukan pengawasan yang ketat karena berpotensi merusak lingkungan.

Uni Eropa baru-baru ini menyetujui peraturan pengelolaan TPA yang sangat ketat dengan melarang pembuangan ban bekas dan metetapkan target pengurangan sampah yang bisa terurai secara biologis.

Batas polusi di tempat pembakaran sampah juga telah ditetapkan. Mereka juga berupaya mengurangi polusi dioksin dan gas asam seperti nitrogen oksida (NOx), sulfur dioksida (SO2), dan hidrogen chlorida (HCL), yang sangat berbahaya bagi kesehatan.

Catatan penting, berdasarkan data EPA, upaya daur ulang dan pembuatan kompos di AS berhasil mencegah pembuangan 85,1 juta ton sampah pada 2010, naik dari hanya 15 juta ton pada 1980.

Prestasi ini setara dengan mencegah pelepasan sekitar 186 juta metrik ton emisi setara karbon dioksida (CO2) ke udara pada 2010 atau setara dengan memensiunkan 36 juta mobil dari jalan raya dalam satu tahun!

Upaya pengelolaan sampah yang baik tidak hanya memecahkan masalah pencemaran lingkungan tapi juga bisa menjadi solusi memerlambat efek pemanasan global. Sampai di mana kita?

sumber : https://www.hijauku.com/2012/05/08/belajar-mengelola-sampah-dari-negara-maju/

Pemerintah kesulitan atasi impor sampah ilegal

Pemerintah mengaku kesulitan mengatasi serbuan sampah plastik yang masuk melalui celah impor scrap plastik atau kertas dari negara maju ke dalam negeri.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengklaim sudah mengirim ulang (reekspor) lebih dari 400 kontainer berisi sampah ilegal ke negara asal pengirim.

Namun persoalannya, jumlah itu masih tak sebanding dengan sekitar 1.300-an kontainer lain yang sudah masuk namun belum diperiksa muatan sampah lainnya—terutama yang terkontaminasi bahan beracun berbahaya (B3)—di luar scrap plastik atau kertas.

“Macam-macam sampahnya; ada bekas infus, bekas popok, bekas suntikan, sampai aki bekas,” kata Siti usai mengikuti rapat terbatas pengelolaan sampah di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (27/8/2019).

Siti menyebut sampah-sampah itu datang dari negara berkelas, mulai dari Amerika Serikat (AS), Australia, Inggris, Jerman, dan Hong Jong.

Idealnya pemerintah tidak memberikan toleransi dalam bentuk apa pun, kata Siti. Tapi sayang, pemerintah sampai saat ini belum memiliki amunisi untuk menghalau masuknya sampah-sampah ilegal itu ke Indonesia.

Kendati Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mengatur jelas tentang larangan masuknya sampah dengan maksimal hukuman penjara 32 tahun, namun kondisi saat ini terjadi karena memanfaatkan celah impor scrap plastik/kertas.

Sehingga, pihak yang seharusnya memiliki aturan tegas adalah Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian. Sayangnya, dua kementerian ini belum memiliki peraturan menteri yang lengkap terkait persoalan ini.

“Persoalannya bukan kita tidak mau impor scrap plastik atau kertas. Jadi memang paradoks antara kebutuhan bahan baku dan upaya menjaga lingkungan hidup,” tukas Siti.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Oke Nurwan di sisi lain mengaku, pihaknya tengah merevisi permendag untuk memperketat celah penyelundupan sampah ilegal.

Beberapa poin yang dimasukan dalam revisi tersebut di antaranya pihak eksportir yang melakukan pengiriman harus terdaftar secara resmi, selain itu juga penguatan pengawasan di tempat asal.

“Sudah dalam proses penyelesaian. Masalahnya tinggal di pengawasan di lapangan. Arahan presiden tadi industri tidak boleh mati tapi pengawasan harus kuat,” kata Oke, di Istana Bogor.

Menambahkan Oke, Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto menyatakan, ke depannya, negara-negara pengimpor scrap plastik/kertas harus mengacu pada lis buyer yang credible. Jika tidak ada dalam lis, maka tidak akan bisa mengimpor.

Begitu pula dengan catatan bahan baku plastik yang boleh dikirim juga akan diperjelas. “Kalau B3 (tercemar) itu final, dilarang. Jadi kalau B3 sudah tidak dimanfaatkan. Ke depan, industri disarankan untuk mengimpor bahan baku recycle yang sifatnya homogen,” tandas Airlangga.

Mengapa perlu impor scrap plastik/kertas

Indonesia memang mengimpor limbah. Namun, limbah yang diimpor adalah non-B3. Aturan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 tahun 2016.

Pada aturan itu disebut bahwa limbah non-B3 yang boleh diimpor hanya berupa sisa reja (buangan) dan scrap.

Adapun kebutuhan sampah impor ini berkaitan erat dengan bahan baku industri, salah satunya kertas. Industri ini memakai sampah kertas untuk diolah menjadi kertas baru.

Ecological Observation and Wet Conservation (Ecoton) mencatat setidaknya ada 12 pabrik kertas di Jawa Timur yang menggunakan bahan baku kertas bekas impor.

Permintaan pun meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dianalisis Ecoton menunjukkan, impor sampah kertas yang masuk ke Jawa Timur naik 35 persen pada 2018 dibanding 2017. Total pada 2018 mencapai 738.665 ton.

Batas impuritas akan diturunkan

Kementerian LHK mengusulkan untuk mempertegas batas kontaminan material ikutan (impuritas) pada sampah dan limbah impor untuk bahan baku industri hingga 2 persen.

Bahkan, menurut Menteri Siti, batas itu bisa turun lagi hingga 0,5 persen. Batasan ini berbanding terbalik dengan keinginan industri pengolahan plastik yang menginginkan batas kontaminan dinaikkan sampai 5 persen.

“Dua persen itu facing down, 2 persen ke 0,5 persen dalam waktu dua tahun akan dibahas di eselon satu,” kata Siti.

Sejauh ini, pemerintah belum memiliki aturan batas kontaminan material ikutan. Termasuk di antaranya dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 31 Tahun 2016 tentang impor sampah non-B3.

Makanya, importir nakal menggunakan celah memasukkan sampah plastik yang tak dapat didaur ulang ke Indonesia.

Sumber :
https://beritagar.id/artikel/berita/pemerintah-kesulitan-atasi-impor-sampah-ilegal

Salah satu langkah sederhana untuk mengatasi permasalahan sampah adalah dengan melakukan pemilahan sampah secara mandiri. Caranya dengan menyediakan tempat sampah terpilah, Yuk pilah sampah mulai sekarang

MENGATASI SAMPAH ? YUK LIHAT GERAKAN MANDIRI DI NEGARA-NEGARA INI

Sampah masih menjadi permasalahan diberbagai negara di dunia, termasuk Indonesia di dalamnya. Meski persoalan ini belum tuntas, gerakan masyarakat secara mandiri mengatasi persoalan sampah tak pernah berhenti.

Situs Goodnet.org menulis lima cara kreatif mengolah sampah yang dilakukan di lima negara. Salah satunya di Indonesia.

Lima cara ini bisa menjadi inspirasi di peringatan Hari Peduli Sampah Nasional yang diperingati setiap 21 Februari.

SWEDIA, MENGUBAH SAMPAH JADI SUMBER ENERGI YANG BERMANFAAT

Swedia dikenal dengan perkembangan lingkungannya yang progresif. Negara Skandinavia ini berhasil membangun sistem mengubah sampah menjadi energi yang secara efisien mampu menghasilkan energi panas untuk 950 ribu rumah tangga dan menyediakan listrik bagi 260 ribu rumah.

Swedia mendaur ulang dan memilah-milah sampahnya secara efektif. Hanya sekitar kurang dari 1% sampah saja yang dikirim ke tempat pembuangan akhir.

Dengan paradigma sampah sebagai komoditas, Swedia mengimpor sampah dari negara-negara Eropa untuk memenuhi kebutuhan energinya. Negara tersebut mengubah 700 kg sampah menjadi 250 kg energi dan bahan bakar

Wah, Keren yaaaa ….

UGANDA, MEMBANGUN TAMAN HIBURAN DARI SAMPAH

Seorang seniman dan ahli lingkungan, Ruganzu Bruno, membawa seni ekologis ke daerah kumuh Kampala, Uganda. Bruno tergabung dalam Eco Art Uganda, yang merupakan kumpulan seniman yang berdedikasi untuk mempromosikan kesadaran lingkungan.

Perkumpulan tersebut menciptakan sebuah taman hiburan untuk anak-anak dari bahan-bahan yang dibuang. Contohnya, mereka membuat ayunan dan permainan papan dari botol-botol plastik bekas.

Hal ini mereka lakukan dengan berbagai tujuan seperti mempercantik lingkungan, memberdayakan, dan mengajarkan anak-anak serta tentu saja mendaur ulang dan mengelola sampah secara efektif.

Luar biasa, ternyata sampah bisa jadi cantik yaa

INDIA, SAMPAH PLASTIK UNTUK MENGASPAL JALAN

Profesor Kimia Rajagopalan Vasudevan merancang sebuah cara untuk mengubah sampah plastik menjadi pengganti aspal. Aspal, seperti yang kita ketahui merupakan bahan utama untuk konstruksi jalan.

Melihat peningkatan jumlah sampah plastik di India, Vasudevan pun optimis sampah merupakan harta karun sumber daya yang belum dimanfaatkan.

Sampah plastik ini menggantikan 15% aspal yang otomatis menghemat dana karena plastik lebih murah dibandingkan aspal yang biasa digunakan.

Sebuah inovasi yang luar biasa, ….

HONG KONG, MEMBANGUN ECO-PARK DI ATAS TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH AKHIR

Tempat Pembuangan Akhir Sai Tso Wan dulunya menampung hingga 1.6 juta ton sampah. Sampah ini menumpuk hingga setinggi 65 meter atau sekitar 213 kaki.

Setelah ditutup dengan tanah pada tahun 1981, tempat ini dijadikan taman bermain multiguna pada tahun 2004. Taman bermain ini didukung oleh turbin angin, sel surya dan energi yang berasal dari metana yang dihasilkan dari sampah yang membusuk.

INDONESIA, MENUKAR SAMPAH DENGAN LAYANAN KESEHATAN

Dr. Gamala Albinsaid melihat adanya hubungan antara kesehatan masyarakat dengan tingginya sampah yang terkumpul di Malang, Jawa Timur, Indonesia. Menjadikan sampah sebagi mata uang, ia menciptakan asuransi kesehatan sampah.

Masyarakat bisa menukar sampah dengan pelayanan kesehatan maupun obat-obatan. Tak perlu uang sebagai imbal jasa, cukup dengan membawa sampah.

Bagaimana rekan-rekan sekalian, menarik dan kreatif kan ?  

Semoga Gerakan Masyarakat Mandiri dalam mengelola sampah dapat menginspirasi gerakan-gerakan serupa. Semakin banyak individu-inividu yang melakukan gerakan kreatif ini, akan menjadi semakin baik.

Semakin kita tahu bahwa sampah juga punya nilai jika di daur ulang dan dimanfaatkan kembali untuk kehidupan manusia pada umumnya.  

Semoga gerakan memanfaatkan sampah ini dapat diadopsi menjadi Gerakan Massive yang diprakarsai oleh pemerintah dengan melibatkan semua pihak tentunya, seperti dunia usaha, media, LSM, Ormas, lembaga pendidikan dan lain-lain.

Dan akhirnya menjadikan dunia menjadi lebih baik dan ramah bagi setiap manusia.

Kita pun bisa melakukannya

Dimulai dari pemilahan sampah kita sendiri, bagaimana cara pemilahannya ? Yuk simak disini

TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH YANG BERSIH DAN INDAH ….. Yuk Belajar ke Negeri Tetangga

Sampah saat ini kian menjadi permasalahan yang serius di hampir semua negara di dunia, termasuk Indonesia. Hampir di semua tempat permasalahan yang sangat sering tedengar adalah sampah kian banyak, sebaliknya ketersediaan lahan di sisi lain semakin terbatas.

Banyak kemudian pihak-pihak yang menawarkan alternatif solusi melalui salah satunya konsep Reduce, Reuse dan Recycle, dimulai dari pemilahan antara sampah organik, anorganik, B3, Plastik, Logam. Selain itu, dilakukan juga pemiliahan antara sampah yang masih bisa digunakan (baik lewat industri kreatif maupun pertanian) dan mana yang tidak.

Akan tetapi tantangan masih tetap ada, dan menuntut banyak pihak untuk bersinergi dan lebih berpikir tentang solusi terdepan.

Salah satu negara tetangga kita telah mempunyai jurus jitu dalam penanganan masalah persampahan ini. SINGAPURA.

Siapa tidak kenal dengan negara satu ini, kita dalam belajar banyak hal dari negara ini.

Berbicara tentang negara Singapura pasti tidak lepas dari negara maju, negara kecil, hingga negara modern. Namun, mungkin tidak banyak orang tahu bahwa terdapat fakta-fakta menarik seputar Negara dengan ikon Singa ini. Contohnya, negara ini melarang produksi, konsumsi dan penjualan permen karet. Bahkan yang paling menarik dan belum banyak diketahui adalah Singapura membuat pulau dari sampah.

Ketika negara-negara di sekitar Asia Tenggara berjuang untuk mengatasi tumpukan plastik dan sampah lainnya di darat dan di perairan mereka, tidak untuk Singapura. Singapura adalah salah satu negara yang bisa dibilang sudah menemukan solusi untuk permasalahan sampah negaranya sendiri.

Jalan-jalan di Singapura bersih, taman dan pantainya sebagian besar bebas dari sampah. Penampakan di negara tersebut berbeda dari negara-negara tetangganya. Hampir semua sampah di Singapura yang tidak dapat didaur ulang dibakar. Lalu abu dan beberapa limbah padat dikirim ke pulau buatan di dekatnya yang juga berfungsi sebagai cagar alam bernama Pulau Semakau seperti yang diberitakan oleh Reuters, Jumat (26/4/2019).

Plastik adalah kategori limbah terbesar yang dibuang di Singapura. Menurut data dari Badan Lingkungan Nasional (NEA) tahun lalu ada lebih kurang sekitar 763.400 ton sampah. Dan hanya 6 persen dari 763.400 ton limbah plastik yang dihasilkan didaur ulang. Analisis data NEA menunjukkan bahwa limbah plastik per kapita telah meningkat hampir 20 persen selama 15 tahun terakhir. Pada bulan Maret dikatakan setiap orang di Singapura rata-rata membuang 13 kantong sehari pada tahun 2016.

Negara Singapura memiliki kepadatan populasi tertinggi ketiga di dunia dengan hampir 8.000 orang per kilometer persegi. Negara Singapura berdiri di sebuah pulau kecil, bahkan dulunya mereka sangat kebingungan kemana sampah-sampahnya akan dibuang. Hingga pada akhirnya Singapura menemukan solusi permasalahan mereka sendiri dengan membuat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) lepas pantai pertama.

TPA lepas pantai buatan manusia pertama Singapura, TPA Semakau, adalah solusi sementara untuk masalah itu sampah di negara ini. Ini dirancang untuk menangani sampah dari Singapura untuk memastikan bahwa lingkungan di sekitarnya terlindungi.

Tidak seperti gambaran kebanyakan orang mengenai TPA, TPA lepas pantai Semakau merupakan TPA yang bersih dan indah.

Berikut 4 fakta menarik TPA Pulau Semakau Singapura yang dilansir dari The Smart Local Singapore, Jumat (26/4/2019).

  1. Tak Terlihat Seperti Pulau Sampah

Melihat keindahakan PuLau Semakau, siapa yang akan menyangka kalau pulau ini adalah TPS nya Singapura ?

  • Aman untuk Ekosistem

Walaupun terbuat dari abu pembakaran sampah dan limbah, keberadaan pulau ini tidak mencemari ekosistem di sekitarnya. Bahkan air disana tidak tercemar dan menjadi habitat bagi hewan-hewan laut.

  • Perairan Jernih

Singapura bahkan telah mengantisipasi kebocoran zat-zat berbahaya yang bisa merusak air. Mereka membuat TPA ini menjadi tempat pembuangan dan pengolahan yang ramah lingkungan.

  • Memiliki Peternakan Ikan Terapung
  • Berlawanan dengan kepercayaan umum bahwa tempat pembuangan sampah kotor dan merusak populasi, Singapura justru membuat peternakan ikan apung di sekitar TPA.

Nah bagaimana dengan Indonesia ?

Permasalahan ini merupakan permasalahan bersama, sehingga penyelesaikan memerlukan sinergi dari banyak pihak. Tidak terkecuali kita. Kita bisa memulainya dengan cara yang sangat sederhana yaitu dengan melakukan pemilihan sampah. Yuk kita bermitra

Lingkungan Tidak Sehat Berpotensi Membunuh 12,6 juta jiwa per tahun

Sebagian dari kita akan berpikir bahwa judul di atas mengada-ada atau paling tidak terlalu membesar-besarkan masalah.

Banyak diantara yang menganggap menciptakan lingkungan yang sehat adalah tidak begitu penting dan hanya tugas segelintir orang saja. Padahal kalau lingkungan sekitar kita bersih dan sehat, siapa yang untung ? pasti kita semua kan ?

Saat ini sudah bukan waktunya lagi menunjuk pihak lain yang harus paling berpikir tentang bagaimana membuat sebuah lingkungan menjadi bersih dan sehat, karena itu semua menjadi tanggung jawab kita semua. Kita semua mempunyai tanggung jawab dan peran yang sama besar.

Lingkungan yang tidak sehat bukan hanya tidak enak dipandang mata atau dapat berakibat penyakit. Bukan hanya itu !

Sekitar 12,6 juta jiwa meninggal setiap tahun akibat lingkungan yang tidak sehat. Laporan dari badan kesehatan dunia WHO tersebut memaparkan dampak dari hidup dan bekerja di kondisi lingkungan yang buruk.

WHO mengingatkan bahwa polusi udara, air dan tanah dan juga paparan terhadap bahan kimia, radiasi sinar ultraungu dan dampak perubahan iklim menyebabkan lebih dari 100 penyakit dan cedera yang terjadi pada penghuni planet Bumi.

Dikutip dari Fortune, laporan badan dunia ini menemukan nyaris 25 persen kematian itu disebabkan oleh kondisi tempat tinggal atau tempat kerja yang buruk. Di Eropa angka ini mencapai 1,4 juta kematian setiap tahun.

Anak-anak dan orang dewasa yang berumur antara 50-75 tahun paling merasakan dampak buruk lingkungan, sementara 1,7 juta jiwa anak balita menderita akibat penyakit menular dan penyakit akibat lingkungan yang buruk. Sebanyak 4,9 juta jiwa orang dewasa mati akibat penyakit tidak menular.

Stroke, yang menyebabkan 2,5 juta jiwa melayang setiap tahun, menjadi pembunuh dunia nomor satu dalam hal kematian yang berhubungan dengan lingkungan. Pada urutan berikutnya adalah penyakit jantung yang merenggut nyawa 2,3 juta jiwa.

Selain itu, sebanyak 40 persen kasus asma berhubungan dengan lingkungan yang tidak sehat, dan sebenarnya bisa dikurangi dengan mencegah polusi udara, asap dari rokok orang lain, dan kelembapan ruangan rumah.

Lingkungan yang buruk juga menyumbang 11 persen kasus meninggal akibat depresi, yang sebenarnya bisa dicegah dengan menerapkan keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan rumah yang baik.

WHO mengatakan bahwa para pemimpin dunia harus mulai berinvestasi dalam upaya penurunan risiko lingkungan yang buruk.

Laporan itu juga menyoroti bagaimana langkah-langkah kesehatan dasar dapat menyelamatkan nyawa, karena kematian akibat diare dan malaria telah menurun drastis di dunia sejak akses terhadap air yang bersih dan aman tersedia.

Bahkan apabila kita turut berperan dalam menciptakan lingkungan yang sehat, masing-masing kita juga berkontribusi terhadap lahirnya populasi yang sehat.

Oleh karenanya tidak hanya negara, bahkan kita semua harus segera melakukan aksi
untuk membuat lingkungan sebagai tempat yang sehat untuk hidup dan bekerja. Sebab apabila tidak, jutaan orang akan sakit dan mati muda.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan senantiasa menjaga kebersihan lingkungan terhadap kesehatan baik di perkotaan, pedesaan, kantor pemerintah, perkantoran swasta dan dunia usaha, perumahan serta ruang publik terbuka seperti taman, pelataran parkir, lapangan olah raga dan lain-lain.

Upaya tersebut bisa secara nyata menurunkan angka kematian yang disebabkan karena penyakit kardiovaskular dan pernapasan, luka, dan kanker, dan hal ini akan mengarah pada penghematan biaya perawatan kesehatan.

Dengan uraian di atas, masihkah kita menganggap remeh menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat ?

Solusi Kebersihan senantiasa setia menjadi mitra anda dalam menciptakan lingkungan sehat dan bersih. Yuk simak produk-produknya

5 CARA SEDERHANA JADI PENYELAMAT LINGKUNGAN

Sadarkah kita adalah penyumbang aktif sampah aktif per hari nya ? Yaaa benar sekali …. kita semua !

Setiap harinya tanpa terasa kita “telah menyumbang” kurang lebih 800 gram sampah setiap harinya. Itu berarti dalam setahun kita menyumbang sampah seberat 292 Kg. Baik itu yang temasuk dalam kategori sampah organik, anorganik, plastik, logam atau bahan bahan berbahaya.  

Itu hanya sampah yang dihasilkan oleh satu orang loh, terbayangkan berapa banyaknya sampah yang dihasilkan manusia se Indonesia, bahkan sedunia setiap tahunnya ? Nah karena itulah pentingnya melakukan setiap kita juga berperan dalam pengelolaan sampah di rumah dan lingkungan kerja kita masing-masing.

Tujuan pengelolaan sampah adalah membuat sampah memiliki nilai ekonomi atau merubahnya menjadi bahan yang tidak membahayakan lingkungan. Dengan pengelolaan sampah rumah tangga yang benar, kamu dapat membantu untuk menekan dampak negatif sampah terhadap lingkungan. Begitu pun dengan sampah yang ada di lingkungan kerja kita.

Bagaimana cara pengelolaan sampah yang benar ? Simak caranya :

  1. Pisahkan Sampah Sesuai Dengan Jenisnya

Langkah pertama sistem pengelolaan sampah di rumah adalah memisahkan sampah berdasarkan jenisnya. Secara garis besar kamu dapat memisahkan sampah menjadi dua jenis, yaitu sampah organik dan anorganik.

Siapkanlah dua tempat sampah yang berbeda di rumah yang dikhususkan untuk setiap jenis-jenis sampah. Kalian pasti sudah tahu, sampah organik adalah sampah yang berasal dari alam. Seperti sisa makanan atau daun. Dengan kata lain semua sampah yang dapat terurai dengan mudah adalah sampah organik. Sementara sampah plastik, karet, kaca dan kaleng masuk ke dalam kategori sampah anorganik.

Dengan memisahkan sampah organik dan anorganik, akan memudahkan kamu untuk memudahkan kamu dalam pengelolaan sampah di rumah kamu pada langkah berikutnya.

Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos yang dapat digunakan untuk berkebun.

  • Pengelolaan Sampah Organik

Cara pengelolaan sampah organik yang paling mudah adalah dengan membuatnya menjadi pupuk kompos yang dapat kamu gunakan untuk berkebun. Namun jika kamu tidak suka berkebun atau tidak suka dengan aroma yang ditimbulkan selama pembuatan pupuk kompos, kamu dapat mendonasikan sampah organik ke sahabat yang memiliki hobi berkebun atau penjual tanaman. Karena mereka pasti dengan senang hati menerimanya untuk dibuat menjadi pupuk kompos.

  • Pengelolaan Sampah Anorganik

Sebagian sampah anorganik dapat didaur ulang, seperti kertas, kardus, botol kaca, botol plastik, kaleng dan lainnya. Jika kamu tidak yakin apakah sebuah kemasan makanan dapat didaur ulang atau tidak, kamu dapat memeriksa logo daur ulang pada kemasan makanan tersebut. Jika terdapat logo daur ulang, maka kemasan makanan tersebut dapat didaur ulang. Bawa sampah-sampah anorganik tersebut ke pusat daur ulang sampah terdekat atau kamu juga bisa memberikannya kepada pemulung.

  • Pengelolaan Sampah Berbahaya

Pisahkan sampah-sampah berbahaya untuk dibawa ke pusat daur ulang. Petugas pusat daur ulang pasti tau cara untuk mendaur ulang sampah berbahaya agar tidak merusak lingkungan.

Untuk barang-barang elektronik yang sudah rusak alias menjadi sampah, kamu dapat mengembalikannya ke perusahaan yang memproduksinya. Beberapa perusahaan elektronik menerima barang elektronik bekas untuk mereka daur ulang kembali menjadi produk elektronik baru.

  • Reduce, Reuse and Recycle !

Budayakan gaya hidup Reduce, Reuse and Recycle atau biasa dikenal dengan 3R, dari diri kamu. Biasakan untuk mengurangi pemakaian plastik atau bahan-bahan lain yang sulit terurai. Untuk menghemat penggunaan plastik, kamu bisa baca lebih lengkap di artikel lainnya yang membahas diet sampah plastik.

Kemudian jangan lupa memanfaatkan barang bekas agar bisa digunakan kembali. Seperti memanfaatkan botol plastik bekas untuk dijadikan pot tanaman. Itu hanya salah satu contoh saja. Masih banyak lagi barang bekas yang bisa digunakan kembali dengan ide kreatifmu!

Terakhir, jangan lupa untuk selalu mendaur ulang sampah-sampah yang dapat didaur ulang kembali. Dengan membawa sampah tersebut ke pusat daur ulang, seperti yang telah dibahas mengenai pengelolaan sampah anogarnik di atas.

Memanfaatkan sisa botol plastik untuk dijadikan pot tanaman.

Solusi Kebersihan akan selalu menjadi mitra anda dalam melakukannya. Yuk bermitra

ARTI TPS DAN TPA : AGAR TIDAK SALAH KAPRAH

Siapa yang tidak tahu atau tidak pernah mendengar jargon “Buanglah Sampah pada Tempatnya”? Semua orang pasti pernah mendengarnya. Mulai dari Anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua semua pernah mendengarnya. Jargon kebersihan ini begitu populer bertahun-tahun melintasi beberapa generasi. Tidaklah mengherankan bila kebanyakan masyarakat memiliki persepsi bahwa sampah adalah sesuatu yang memang sudah seharusnya dibuang.  

Dimanakah tempat pembuangannya? Bila dibuat survei, hampir dapat dipastikan jawaban teratas adalah keranjang / tempat sampah.  Bila surveinya diadakan di masyarakat perkotaan, maka tentu akan banyak juga yang menjawab TPS dan TPA.  

Dari sisi pengelolaan sampah perkotaan (urban waste management) tentu ini hal yang menggembirakan bahwa masyarakat mengetahui alur pengolahan sampah adalah dari sumbernya (rumah tangga, kantor, tempat publik, dsb) ke TPS dan berakhir di TPA.  

Namun berapa banyak masyarakat yang tahu bahwa kepanjangan dari TPS adalah bukan Tempat Pembuangan Sampah dan kepanjangan dari TPA bukanlah Tempat Pembuangan Akhir ? 

Singkatan TPS dan TPA muncul dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2010 tentang Pedoman Pengelolaan Sampah dan beberapa peraturan menteri lingkungan hidup dan menteri pekerjaan umum yang merupakan peraturan pelaksana dari Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.  

TPS adalah singkatan dari Tempat Penampungan Sementara yaitu tempat sebelum sampah diangkut ke tempat pendauran ulang, pengolahan, dan/atau tempat pengolahan sampah terpadu.  

Sedangkan TPA adalah singkatan dari Tempat Pemrosesan Akhir yaitu tempat untuk memroses dan mengembalikan sampah ke media lingkungan secara aman bagi manusia dan lingkungan.  

Mempersepsikan TPS dan TPA sebagai Tempat Pembuangan Sampah mengandung bahaya dalam hal pengelolaan sampah kota yang berkelanjutan: Apabila persepsi ini terus berlanjut, maka hampir bisa dipastikan warga kota akan menaruh semua jenis sampah yang dihasilkannya ke TPS.  

Hal ini akan berakibat pada tingginya volume sampah dan meningkatnya beban kerja petugas pengangkut sampah, apalagi pada kota yang memiliki personil, alat angkut dan biaya operasional sampah yang terbatas.  

Dalam kondisi demikian, bila semua sampah dari semua TPS diangkut dan ditimbun di TPA maka akan memperpendek umur pakai TPA tersebut karena dapat diprediksikan bahwa TPA akan cepat menjadi penuh.  

Bila TPA sudah menjadi penuh mau kemana lagi sampah kota dibawa ? 

Mencari lokasi baru untuk membuat TPA baru ?

Jangan lupa bahwa  pertambahan jumlah penduduk dan pembangunan yang meningkat seiring berjalannya waktu akan berakibat pada berkurangnya ketersediaan lahan.  

Sudah terjadi seperti di Provinsi DKI Jakarta yang harus mengangkut sampahnya ke Bantar Gebang, Bekasi di Provinsi Jawa Barat.  Di Jepang, Pemerintah Tokyo harus mereklamasi Teluk Tokyo untuk menambah luas areal TPA-nya.  

Kalaupun suatu kota masih memiliki ketersediaan lahan untuk lokasi TPA baru, tentulah harus membayar dengan harga yang tinggi, belum lagi harus menghadapi masyarakat di sekitar lokasi tersebut yang belum tentu bisa menerima rencana pembangunan TPA.

Jadi dalam hal pengelolaan sampah perkotaan yang berkelanjutan, hal penting yang harus dilakukan bukan saja mengedukasi masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, namun juga agar secara aktif melakukan pengurangan sampah dan penanganan sampah.

Dalam melakukan pengelolaan sampah perkotaan, Pemerintah Kabupaten/Kota perlu beranjak dari pendekatan kebersihan dan keindahan kota kepada pengelolaan sampah perkotaan yang terintegrasi mulai dari sumber sampah hingga ke TPA. Sesuai dengan definisi TPS (Tempat Penampungan Sementara) dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 dan peraturan pelaksananya, tidak serta merta semua sampah dari TPS diangkut ke TPA. Sampah yang sudah terpilah di TPS semestinya diangkut lebih dahulu ke tempat pendauran ulang, pengolahan, dan/atau tempat pengolahan sampah terpadu. Persoalannya kebanyakan pemerintah kabupaten/kota tidak memiliki fasilitas pengolahan sampah antara (intermediate waste processing facility).

Melihat kondisi di atas, Bagaimana kita dapat mulai memperbaiki kondisi yang ada ?

Kita dapat memulai dengan mengoreksi persepsi kita bahwa TPS bukanlah Tempat Pembuangan Sampah melainkan Tempat Penampungan Sementara, dan TPA bukanlah Tempat Pembuangan Akhir melainkan Tempat Pemrosesan Akhir. Karena itu semestinyalah dibangun fasilitas pengolahan sampah antara TPS dan TPA. Tidak harus membangun yang baru, Pemerintah Kabupaten/kota dapat memberdayakan Bank Sampah yang telah ada sebagai pusat daur ulang dan pembuatan kompos. Residu yang tidak bisa diolah di Bank Sampah barulah kemudian diangkut ke TPA.

Di TPA pun dilakukan pemrosesan antara lain menutup sampah dengan tanah secara berlapis, serta mengelola air lindi dan gas metana yang dihasilkan dari sampah tersebut. Konsep 3R (Reduce, Reuse & Recycle) harus dipopulerkan hingga tertanam di kesadaran pribadi warga kota. Setidaknya warga kota sadar untuk melakukan pemilahan sampah. Untuk menjamin sampah tetap terpilah dapat ditentukan jadwal pengumpulan sampah yang berbeda sesuai jenisnya.

Memilih untuk menggunakan tas belanja daripada kantong kresek dan menggunakan saputangan daripada tissue adalah contoh sederhana dari upaya pengurangan sampah. Sementara penanganan sampah yang dapat dilakukan oleh individu dan masyarakat adalah dengan pemilahan sampah, membuat kompos dan mendaur ulang sampah. 

Terkait pemilahan sampah, sesuai dengan namanya, Solusi Kebersihan menawarkan produk-produk menarik yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan anda para konsumen tercinta. Berikut adalah produk-produknya

9 JURUS CERDAS DAN MUDAH MENJAGA KEBERSIHAN LINGKUNGAN RUMAH

Siapa yang tidak ingin Memiliki rumah yang bersih dan sehat ? Pasti hal ini adalah harapan setiap keluarga, tetapi sebaliknya banyak sekali orang yang mengabaikan hal ini. Faktor penyebabnya bisa beraneka ragam, belum tahu beberapa manfaat yang akan didapat dari rumah yang bersih dan sehat, tidak ada waktu luang untuk membereskan rumah, tidak ada pembagian tugas untuk membersihkan rumah bahkan bisa saja alasannya sederhana, malas.

Yang pasti satu hal, memiliki lingkungan rumah yang bersih juga akan membuat nyaman seluruh penghuni rumah.

Untuk menjaga kebersihan lingkungan rumah, sebenarnya Anda tidak perlu hal besar untuk dilakukan, cukup lakukan hal-hal sederhana tetapi rutin dalam melaksanakannya, dan pastinya harus dijalankan oleh setiap anggota keluarga, sekali lagi, libatkan semua anggota keluarga. Tentunya pembagian tugasnya harus disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Nah, Anda ingin punya rumah yang bersih dan sehat ?  

Berikut ini beberapa cara menjaga kebersihan rumah yang bisa Anda terapkan dalam kehidupan sehari-hari :

  1. Biasakan Habis Makan Selalu Cuci Piring

Piring kotor yang menumpuk bisa menimbulkan bau yang tak sedap, serta menganggu pemandangan, Apalagi kalau piring-piring atau gelas yang kotor berserakan dimana-mana, pastinya bisa mengundang lalat dan semut. Oleh karena itu, penting untuk membiasakan diri dan seluruh anggota keluarga untuk meletakkan piring di tempat cuci piring sehabis makan, dan segera cuci piring kotor tersebut, agar tak tambah menumpuk.

  • Jangan Banyak Menggantung Pakaian

Pakaian yang menggantung bisa mengundang nyamuk, Anda pasti tahu bahaya nyamuk bagi kesehatan. Selain bisa mengundang nyamuk, pakaian yang menggantung juga membuat rumah terkesan berantakan. Solusinya, Anda bisa membeli keranjang khusus untuk menaruh pakaian kotor, sehingga tak berceceran dimana-mana.

  • Jaga Kebersihan Saluran Pembuangan

Saluran pembuangan seperti selokan dan septictank juga jangan Anda kesampingkan kalau ingin punya rumah yang bersih dan sehat. Jangan hanya mengandalkan waktu kerja bakti kebersihan lingkungan saja untuk membersihkan selokan atau got di depan rumah, jika ada waktu luang, sempatkan untuk membersihkan selokan.

Selain selokan, penting juga untuk menyedot septic tank secara berkala. Hal ini bertujuan agar septic tank tidak terlalu penuh yang pada akhirnya akan menyebabkan WC Anda mampet.

  • Bersihkan Debu yang Menumpuk

Ada beberapa tempat yang biasanya jadi favorit laba-laba dan debu bersarang, seperti di atas lemari, kolong-kolong tempat tidur, gudang dan tempat lainnya.

Hal tersebut kalau dibiarkan bisa menimbulkan gangguan kesehatan bagi anggota keluarga, seperti bersin-bersin atau alergi. Sebaiknya, selalu bersihkan bagian-bagian tersebut secara rutin, termasuk gudang juga sebaiknya Anda bersihkan, agar tidak menjadi sarang debu.

  • Hindari Genangan-genangan Air

Salah satu cara menjaga kebersihan rumah adalah dengan membuang genangan-genangan air atau menutupnya. Seperti kita tahu, genangan air bisa jadi salah satu penyebab timbulnya jentik-jentik nyamuk demam berdarah di rumah.

  • Letakan Keset di depan Kamar Mandi dan Pintu Masuk Rumah

Melektakkan keset di depan pintu masuk sangat penting sekali untuk menjaga kebersihan rumah Anda, terlebih kalau ada anggota keluarga Anda yang masih anak-anak, terkadang mereka habis kotor-kotaran di luar main masuk rumah saja. Untuk itu, dengan menyediakan keset di depan pintu rumah bisa mencegah hal itu terjadi. Tetapi yang pasti awalnya Anda edukasi dahulu anak agar selalu menggunakan keset sehabis main dari luar.

Selain di depan pintu, penting juga untuk menaruh keset di depan kamar mandi. Kamar mandi adalah tempat yang basah, tentu Anda perlu mengeringkan kaki terlebih dahulu sebelum kemana-mana.

  • Bersihkan Pekarangan Secara Teratur

Kalau di pekarangan Anda ada pohon besar, biasanya yang bikin kotor adalah daun kering yang berguguran. Untuk menjaga kebersihan pekarangan rumah, mau tidak mau Anda harus menyapu daun-daun kering tersebut setiap hari, daripada ditumpuk-tumpuk. Jika pekarangan Anda bersih, tentu akan indah dipandang dan Anda makin betah di rumah.

  • Tetapkan Jadwal Bersih-bersih Rumah

Menyapu dan mengepel adalah cara wajib yang setiap hari Anda lakukan untuk menjaga kebersihan rumah. Selain itu, Anda juga perlu menetapkan jadwal bersih-bersih lingkungan rumah secara besar-besaran. Misalnya, membersihkan gudang, langit-langit rumah, pajangan, atas lemari, kolong tempat tidur, dan tempat-tempat sarang kotoran lainnya.

Kegiatan kebersihan lingkungan rumah ini bisa Anda lakukan setidaknya sebulan sekali dan melibatkan seluruh anggota keluarga. Hal ini juga sekaligus akan menanamkan sifat gotong royong pada anak.

Jadi kan ini sebagai kesempatan

  • Sediakan Tempat Sampah di Setiap Ruangan

Kalau anggota keluarga Anda banyak, tak ada salahnya untuk menyediakan tempat sampah di setiap ruangan, atau di beberapa ruangan tempat keluarga berkumpul. Karena biasanya saat berkumpul, mereka akan makan dan malas untuk membuang sampah, karena tempat sampahnya jauh dari jangkauan.

Apa jadinya kalau sampah berserakan dimana-mana? Ujung-ujungnya Anda sendiri yang capek membersihkannya. Oleh karena itu, sebaiknya kurangi kerjaan yang sebenarnya bisa di cegah.

Khusus untuk jurus ke sembilan, kami pastikan bahwa kami adalah mitra setia anda. Kami menyediakan tempat sampah berbagia ukuran dan bentuk, berbahan fiberglass yang berkualitas. Yuk lihat produk kami disini