Beralih dari produk sekali pakai ke reusable

Salah satu dari cara termudah untuk menjadi eco-friendly dan mengurangi dampak lingkungan sekitar anda adalah beralih pada produk-produk yang dapat digunakan ulang atau resable. Produk sekali pakai mungkin mudah dibelanjakan dan digunakan dalam waktu yang singkat, akan tetapi, untuk jangka panjang akan beresiko menghasilkan limbah yang merugikan. Kenapa kita membutuhkan begitu banyak plastik sekali pakai? Penjelasanya cukup sederhana, karena lebih murah dan mudah diperoleh daripada produk reusable.

PLASTIK DAN PERMASALAHAN LINGKUNGAN

Meskipun produk sekali pakai dapat dibuat dari berbagai macam material, salah satu yang paling umum adalah plastik; material ini adalah yang paling berbahaya bagi lingkungan. Pastik membutuhkan waktu sekitar 400 tahun untuk berdegraasi. Begitu besar dampaknya jika material tersebut terkumpul pada landfill (ditimbun di tanah) atau mencemari bumi atau laut. Adapun, dilansir dari National Geographic pada sebuah artikel bahwa dampak plastik pada lingkungan adalah sebagai berikut:

  • 8,3 miliar ton pastik telah diproduksi sejak enam dekade yang lalu (yang didominasi oleh produk sekali pakai/disposable)
  • Hanya sekitar 12% plastik yang dibakar (incenerated), 6,2 miliar ton lainya masih menumpuk pada pembuangan
  • Dari “sampah-sampah” tersebut, hanya sekitar 9% yang di-recycle (daur ulang), yang berarti 91% lainya tidak pernah di-recycle
  • Setengah dari semua plastik yang diproduksi menjadi sampah dalam waktu setahun
  • 8 miliar ton plastik per-tahun berakhir di laut (tas plastik, botol dll)

OPSI PRODUK-PRODUK REUSABLE SUDAH TERSEDIA

produk sekali pakai tidak selalu menjadi bencana pada masa lalu. Faktanya, jika anda bertanya pada kakek-nenek anda, atau bahkan orang tua anda, mereka mungkin menjawab bahwa produk-produk sekali pakai bahkan belum ada pada saat masa mereka muda. Ketika mereka membeli sesuatu, mereka membeli sesuatu tersebut untuk jangka panjang. Hari ini, banyak orang mulai memilih untuk menggunakan barang yang cepat dan praktis daripada pertimbangan keuntungan jangka panjang. Ketika mereka berfikir pada kondisi saat ini, mereka pasti yakin mereka tidak memikirkan carbon footprint mereka sendiri serta dampak lingkungan yang ditimbulkan dalam waktu dekat. Untungnya, penggunaan produk reusable kini telah banyak tersedia. Anda dapat memilih untuk membeli dan menggunakan reusable produk dibandingkan dengan produk sekali pakai. Anda mungkin membayar sedikit lebih mahal, tetapi anda akan mendapat menggunakanya berkali-kali dan anda telah berkontribusi untuk tidak membuat tumpukan sampah pada landfill.

KAPAN ANDA DAPAT MENGGUNAKAN PRODUK-PRODUK REUSABLE

Anda mungkin sudah familiar dengan produk-produk reusable yang anda dapat gunakan dibanding dengan produk-produk sekali pakai, namun ada beberapa yang cukup populer yang sudah kami rangkum pada list berikut ini:

  • Membeli sedotan gelas, stainless stee atau bambu dibandingkan dengan plastik. Tentu saja, anda tidak membutuhkan sedotan akan lebih baik tidak menggunakanya sama sekali.
  • Menggunakan tumbler atau botol yang dapat dipakai berkali-kali dibandingkan menggunakan gelas dan wadah plastik
  • Gunakan gelas kaca atau yang bisa dicuci untuk menghindari pengguaan gelas plastik
  • Gunakan wadah makanan yang dapat dicuci dan digunakan ulang daripada menggunakan plastic wrap ataupun styrofoam
  • Gunakan tas (goodie bag) yang reusable untuk belanja sehari-hari, hindari penggunaan tas plastik sekali pakai

6 Negara dengan Pengelolaan Sampah Terbaik, Apakah ada Indonesia?

Berbicara sampah di negara sendiri memang tidak ada habisnya,banyak masyarakat yang masih enggan untuk membuang sampah pada tempatnya. Berbeda dengan  negara-negara maju biasanya sudah memiliki tata cara membuang sampah yang canggih dan teratur.

Untuk itu ada baiknya kita mencontoh beberapa negara ini dalam hal pengelolaan sampah agar tercipta lingkungan yang bersih, nyaman dan indah. Berikut enam negara yang memiliki pengelolaan sampah yang dianggap terbaik di dunia, yang dilansir dari sejumlah sumber.

1. Jepang

Jika berkunjung ke Jepang Anda pasti akan jarang menemukan sampah berserakan di jalanan. Setiap rumah tangga di Jepang tidak bisa begitu saja memasukkan semua sampah ke dalam satu kantong saja karena harus dimasukkan ke dalam kantong terpisah. Bahkan ada yang mengharuskan sampah dimasukkan ke dalam kantong yang transparan.

Ada beberapa jenis sampah untuk pemilahan tersebut. Di Indonesia sampah dibedakan menjadi dua yaitu organik dan anorganik. Berbeda dengan Jepang yang memiliki tiga jenis pembagian sampah. Ada yang dibakar dan diolah secara alami. Ada sampah yang tidak bisa dibakar, dan barang-barang bekas yang tidak dapat dimasukan ke dalam plastic sampah seperti televisi, mesin cuci, AC, kompor dan sejenisnya.

Berbicara sampah di negara sendiri memang tidak ada habisnya,banyak masyarakat yang masih enggan untuk membuang sampah pada tempatnya. Berbeda dengan  negara-negara maju biasanya sudah memiliki tata cara membuang sampah yang canggih dan teratur.

Untuk itu ada baiknya kita mencontoh beberapa negara ini dalam hal pengelolaan sampah agar tercipta lingkungan yang bersih, nyaman dan indah. Berikut enam negara yang memiliki pengelolaan sampah yang dianggap terbaik di dunia, yang dilansir dari sejumlah sumber.

1. Jepang

Jika berkunjung ke Jepang Anda pasti akan jarang menemukan sampah berserakan di jalanan. Setiap rumah tangga di Jepang tidak bisa begitu saja memasukkan semua sampah ke dalam satu kantong saja karena harus dimasukkan ke dalam kantong terpisah. Bahkan ada yang mengharuskan sampah dimasukkan ke dalam kantong yang transparan.

Ada beberapa jenis sampah untuk pemilahan tersebut. Di Indonesia sampah dibedakan menjadi dua yaitu organik dan anorganik. Berbeda dengan Jepang yang memiliki tiga jenis pembagian sampah. Ada yang dibakar dan diolah secara alami. Ada sampah yang tidak bisa dibakar, dan barang-barang bekas yang tidak dapat dimasukan ke dalam plastic sampah seperti televisi, mesin cuci, AC, kompor dan sejenisnya.

2. Jerman               

Di negara Jerman ada empat macam tempat sampah sesuai fungsinya. Pertama sampah sisa makanan berwarna cokelat, kedua sampah kertas atau karton berwarna biru, ketiga sampah rumah tangga berwarna hitam dan yang keempat adalah sampah kemasan berwarna plastik kuning.

Kalau ada kesalahan, sampah tersebut tidak akan di ambil oleh petugas dan pemilik sampah akan mendapatkan surat teguran dari pemerintah. Selain itu ada lagi sampah yang harus dipisahkan yaitu sampah botol kaca dan batu baterai yang sudah habis.

Pembuangan sampah botol juga di pisahkan sesuai warnanya. Misalnya sampah botol berwarna putih atau bening di buang sesuai tempatnya dan memiliki jam operasional membuang sampah dari pagi sampai menjelang malam.

3. Swedia

Swedia punya sistem pengolahan sampah yang canggih. Dilansir The Huffington Post, mereka menerapkan manajamen sampah dengan konsep waste-to-energy (WTE). Limbah rumah tangga diolah lewat proses pembakaran. Uap panas yang dihasilkan oleh proses pembakaran ini lalu dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Kemudian listrik didistribusikan ke rumah-rumah di seluruh negeri.

Pembangkit listrik berbahan bakar sampah ini telah memasok kebutuhan panas bagi 950.000 rumah tangga dan memenuhi kebutuhan listrik bagi 260.000 rumah tangga di seluruh Swedia.

Pemerintah menyediakan fasilitas dan memberikan insentif untuk memilah-milah sampah sesuai jenisnya. Tempat sampah ada banyak jenisnya. Tempat sampahnya pun menarik, lebih mirip lemari dengan keadaan bersih dan tidak kumuh. Di tempat sampah umum juga dikelompokan sesuai jenisnya yaitu sampah organik, plastik, kertas, kaca, dan logam.

4. Belanda

Negerikincir angin ini memiliki kenangan buruk mengenai sampah. Pasalnya, di abad 17 hingga 19, Belanda dikenal karena tingginya jumlah sampah yang tak dikelola, dan banyak penduduknya yang terserang penyakit. Belanda mencari solusi terbaik.

Saat ini, mereka sudah menerapkan sistem pembakaran sampah yang cukup modern sehingga pembakaran tersebut bisa dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik.

5. Korea Selatan

Cara warga Korea Selatan membuang sampah teramasuk unik. Mereka memiliki kantong kresek khusus untuk sampah. Setiap kantong punya warna berbeda untuk membedakan jenis sampah yang dibuang. Selain itu sudah tertera informasi mengenai wilayah dimana Anda tinggal. Jadi kalau membuang sampah sembarangan sudah pasti dapat dilacak keberadaannya.

Lalu, mereka memiliki tiga kategori sampah yang berbeda yaitu sampah makanan, sampah yang bisa di daur ulang, dan sampah lain-lain yang tidak bisa masuk ke dalam dua kategori itu. Misalnya popok bayi dan tisu bekas.  

Kalau  tinggal di apartemen biasanya ada satu lantai yang digunakan untuk tempat pembuangan sampah. Ruang pertama untuk membuang barang-barang besar seperti sofa, lemari, meja, dan sejenisnya. Ruang kedua biasanya untuk sampah bekas makanan dan ruang ketiga  untuk sampah daur ulang. Uniknya lagi, kalau ketahuan  membuang sampah makanan yang masih tersisa maka Anda harus membayar denda.

6. Inggris

Setiap rumah di Inggris diberikan diberikan tiga buah tempat sampah ukuran sedang dan dengan warna yang berbeda pula. Ada warna hijau,cokelat dan biru tua. Di tutup masing-masing kotak sampah ini, memiliki informasi sampah apa saja yang harus dimasukan.

Kotak sampah bewarna cokelat hanya diperbolehkan  untuk semacam daun, akar, ranting, gulma, bunga, sampah organik dapur semacam kulit kupasan buah, sampah sayuran, kertas karton atau kardus bekas.

Warna biru untuk botol kemasan plastik yang sudah tidak terpakai. Sedangkan kotak sampah dengan warna hijau  untuk mengisi sampah apa saja selain yang harus masuk ke biru dan cokelat, kecuali botol kaca.

Sumber :
https://www.liputan6.com/lifestyle/read/3901947/cerita-akhir-pekan-6-negara-dengan-pengelolaan-sampah-terbaik-apakah-ada-indonesia

Pengolahan Sampah Melalui 4R ( REDUCE , REUSE,REPLACE,RECYCLE )

Dalam pengolahan sampah kita harus lah bijak serta menerapkan 4R,apa saja 4R itu mari kita simak :

  • Reduce adalah mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah atau meminimalisir sampah,contoh saja dengan :
  • Menggunakan botol minum yang bisa dicuci tidak sekali pakai
  • Menggunakan tas belanja serta mengurangi tas kresek
  • Mengurangi jajan yang menggunakan kemasan plastik atau membawa bekal dari rumah
  • Reuse adalah menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan ,contoh
  • Menggunaan bekas botol minum untuk menanam bunga
  • Menggunakan bekas tempat cat sebagai pot untuk menanam bunga
  • Replace adalah suatu upaya penggantian atau memakai alternatif ,contoh :
  • Menggunakan sapu tangan untuk mengganti tissue
  • Mengunakan tas keranjang untuk mengganti tas kresek
  • Recycle adalah mendaur ulang sampah sampah menjadi barang – barang baru ,contoh
  • Membuat tas dari bungkus kopi
  • Membuat tikar dari anyaman bungkus detergen

Dalam hal ini kita harus bersikap kreatif serta inovatif dalam penangganan sampah yang menjadi masalah selama ini, jika kita tidak menanganinya maka akan menjadi problem bagi kita contoh saja dari bau yang ditimbulkan akan menyebabkan polusi udara belum lagi dari segi kesehatan sampah membawa ribuan kuman yang akan menimbulkan ribuan penyakit.Dari penangganan sampah yang tepat maka akan terciptanya lingkungan yang bersih dan jika penggolahan 4R berjalan akan menimbulkan lapangan kerja bagi masyarakat dan mengurangi pengangguran dan juga menambah profit dan benefit bagi masyarakat.

Sampah Bermunculan Di Selokan Mataram

Kekeringan mengakibatkan sampah sampah yang berada di sungai selokan mataram bermunculan dan ada yang menambahinya dengan membuang sampah disungai,masyarakat belum sadar betul  akan bagaimana cara mengolah limbah sampah.Mungkin perlu adanya sosialisai tentang bagaimana mengolah limbah agar dapat terkondisikan dengan tepat.Sehingga sampah tidak mencemari lingkungan apalagi sungai,dipandang matapun pemandangan seperti ini tidak etis dan bahkan mungkin jijik,sebenarya dalam mengolah sampah hanya perlu kesadaran dari sendiri untuk tidak membuang sampah disungai serta perlu kesadaran untuk memilah dan mengolah sampah tersebut.

Sampah yang dibuang kesungai akan sangat berpengaruh terhadap lingkungan jika dalam sungai tersebut terdapat ikan maka habitat nya pun akan terganggu , semisal dari limbah cairan detergen yang dibuang kesungai selain mencemari mungkin juga bisa membunuh anak ikan yang masih kecil kecil.Biasakan kita sebagai sumberdaya manusia harus bijaksana dalam berfikir dan bertindak.Dalam pengolahannya sampah  kita dapat memulai dari  :

  1. Membedakan / memilah sampah organik dan anorganik
  2. Sampah organik kita bisa gunakan menjadi pupuk (buang disawah,kebun) dan anorganik kita jual kepada bank sampah atau buat kreasi agar menjadi barang yang berguna

Perlu kesadaran bahwa kita harus memilah dalam membuang sampah serta membedakan mana yang sampah organik dan non organik sehingga dapat di proses dengan tepat,sebisa mungkin kita sebagai sumber daya manusia dapat mengurangi sampah tersebut dan menggunakan barang tidak sekali pakai, contoh saja menggunakan sapu tanggan untuk mengganti tissue, menggunakan botol yang bisa dicuci untuk mengganti botol sekali pakai.

Belajar mengelola sampah dari negara maju

Masalah sampah muncul seiring pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Data dari Lembaga Perlindungan Lingkungan AS (Environmental Protection Agency) menyebutkan, penduduk Amerika menghasilkan 250 juta ton sampah padat per tahun pada 2010. Bandingkan dengan jumlah sampah padat yang dihasilkan oleh penduduk Indonesia pada periode yang sama yang mencapai 56,3 juta ton pertahun.

Menurut data statistik Eurostat, setiap tahun, masyarakat Uni Eropa membuang 3 miliar ton sampah – 90 juta ton di antaranya adalah sampah beracun. Dari angka tersebut berarti, setiap pria, wanita dan anak-anak di Eropa membuang 6 ton sampah padat setiap tahun.

Namun menemukan cara mengelola dan membuang sampah – tanpa merugikan lingkungan – terus menjadi masalah besar di semua negara hingga saat ini. Di Eropa, kebanyakan dari sampah tersebut dibakar di tempat pembakaran sampah (incinerators) atau dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir (67%). Namun kedua metode ini sama-sama merusak lingkungan.

Kebutuhan lahan untuk lokasi pembuangan sampah terus meningkat. Sampah juga mencemari udara, air dan tanah, melepas karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4) ke udara, serta bahan kimia dan pestisida ke tanah. Hal ini membahayakan tidak hanya bagi kesehatan manusia, namun juga bagi hewan dan tumbuhan.

Amerika Serikat maupun Uni Eropa, berpegang pada tiga prinsip berikut untuk menangani sampah:

1. Mencegah produksi sampah

Strategi ini adalah yang terpenting dalam pola pengelolaan sampah yang sangat terkait dengan upaya perusahaan untuk memimimalisir kemasan dan upaya memengaruhi konsumen untuk membeli produk-produk yang ramah lingkungan.

Jika upaya ini berhasil – dengan bantuan media dan lembaga terkait – maka dunia akan bisa mengurangi sampah secara signifikan dan mendorong penggunaan bahan-bahan ramah lingkungan dalam setiap produk yang dikonsumsi oleh masyarakat.

2. Mendaur ulang dan menggunakan kembali suatu produk

Jika kita masih sulit untuk mencegah terciptanya sampah, langkah daur ulang adalah langkah alternatif yang bisa dilakukan untuk menguranginya.

Baik AS maupun negara Uni Eropa, mereka sudah menentukan jenis sampah apa saja yang menjadi prioritas untuk diolah dan didaur ulang, meliputi sampah kemasan, limbah kendaraan, beterai, peralatan listrik dan sampah elektronik.

Uni Eropa juga meminta negara-negara anggotanya untuk membuat peraturan tentang pengumpulan sampah, daur ulang, penggunaan kembali dan pembuangan sampah-sampah di atas. Hasilnya tingkat daur ulang sampah kemasan di beberapa negara anggota Uni Eropa mencapai lebih dari 50%.

Di AS, keberhasilan upaya daur ulang sejumlah produk juga sangat menggembirakan. Jumlah baterai (aki) kendaraan yang berhasil didaur ulang mencapai 96%. Jumlah surat kabar dan kertas yang berhasil didaur ulang ada di tempat kedua sebesar 71% dan sekitar duapertiga (67%) kaleng baja berhasil didaur ulang. Tantangan terbesar ada pada upaya mendaur ulang produk-produk elektronik konsumen dan wadah gelas. AS baru berhasil mendaur ulang seperempat (25%) dan sepertiganya.

3. Memerbaiki cara pengawasan dan pembuangan sampah akhir

Jika sampah tidak berhasil didaur ulang atau digunakan kembali sampah harus dibakar dengan aman. Lokasi pembuangan sampah adalah solusi terakhir. Kedua metode ini memerlukan pengawasan yang ketat karena berpotensi merusak lingkungan.

Uni Eropa baru-baru ini menyetujui peraturan pengelolaan TPA yang sangat ketat dengan melarang pembuangan ban bekas dan metetapkan target pengurangan sampah yang bisa terurai secara biologis.

Batas polusi di tempat pembakaran sampah juga telah ditetapkan. Mereka juga berupaya mengurangi polusi dioksin dan gas asam seperti nitrogen oksida (NOx), sulfur dioksida (SO2), dan hidrogen chlorida (HCL), yang sangat berbahaya bagi kesehatan.

Catatan penting, berdasarkan data EPA, upaya daur ulang dan pembuatan kompos di AS berhasil mencegah pembuangan 85,1 juta ton sampah pada 2010, naik dari hanya 15 juta ton pada 1980.

Prestasi ini setara dengan mencegah pelepasan sekitar 186 juta metrik ton emisi setara karbon dioksida (CO2) ke udara pada 2010 atau setara dengan memensiunkan 36 juta mobil dari jalan raya dalam satu tahun!

Upaya pengelolaan sampah yang baik tidak hanya memecahkan masalah pencemaran lingkungan tapi juga bisa menjadi solusi memerlambat efek pemanasan global. Sampai di mana kita?

sumber : https://www.hijauku.com/2012/05/08/belajar-mengelola-sampah-dari-negara-maju/

Pemerintah kesulitan atasi impor sampah ilegal

Pemerintah mengaku kesulitan mengatasi serbuan sampah plastik yang masuk melalui celah impor scrap plastik atau kertas dari negara maju ke dalam negeri.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengklaim sudah mengirim ulang (reekspor) lebih dari 400 kontainer berisi sampah ilegal ke negara asal pengirim.

Namun persoalannya, jumlah itu masih tak sebanding dengan sekitar 1.300-an kontainer lain yang sudah masuk namun belum diperiksa muatan sampah lainnya—terutama yang terkontaminasi bahan beracun berbahaya (B3)—di luar scrap plastik atau kertas.

“Macam-macam sampahnya; ada bekas infus, bekas popok, bekas suntikan, sampai aki bekas,” kata Siti usai mengikuti rapat terbatas pengelolaan sampah di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (27/8/2019).

Siti menyebut sampah-sampah itu datang dari negara berkelas, mulai dari Amerika Serikat (AS), Australia, Inggris, Jerman, dan Hong Jong.

Idealnya pemerintah tidak memberikan toleransi dalam bentuk apa pun, kata Siti. Tapi sayang, pemerintah sampai saat ini belum memiliki amunisi untuk menghalau masuknya sampah-sampah ilegal itu ke Indonesia.

Kendati Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mengatur jelas tentang larangan masuknya sampah dengan maksimal hukuman penjara 32 tahun, namun kondisi saat ini terjadi karena memanfaatkan celah impor scrap plastik/kertas.

Sehingga, pihak yang seharusnya memiliki aturan tegas adalah Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian. Sayangnya, dua kementerian ini belum memiliki peraturan menteri yang lengkap terkait persoalan ini.

“Persoalannya bukan kita tidak mau impor scrap plastik atau kertas. Jadi memang paradoks antara kebutuhan bahan baku dan upaya menjaga lingkungan hidup,” tukas Siti.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Oke Nurwan di sisi lain mengaku, pihaknya tengah merevisi permendag untuk memperketat celah penyelundupan sampah ilegal.

Beberapa poin yang dimasukan dalam revisi tersebut di antaranya pihak eksportir yang melakukan pengiriman harus terdaftar secara resmi, selain itu juga penguatan pengawasan di tempat asal.

“Sudah dalam proses penyelesaian. Masalahnya tinggal di pengawasan di lapangan. Arahan presiden tadi industri tidak boleh mati tapi pengawasan harus kuat,” kata Oke, di Istana Bogor.

Menambahkan Oke, Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto menyatakan, ke depannya, negara-negara pengimpor scrap plastik/kertas harus mengacu pada lis buyer yang credible. Jika tidak ada dalam lis, maka tidak akan bisa mengimpor.

Begitu pula dengan catatan bahan baku plastik yang boleh dikirim juga akan diperjelas. “Kalau B3 (tercemar) itu final, dilarang. Jadi kalau B3 sudah tidak dimanfaatkan. Ke depan, industri disarankan untuk mengimpor bahan baku recycle yang sifatnya homogen,” tandas Airlangga.

Mengapa perlu impor scrap plastik/kertas

Indonesia memang mengimpor limbah. Namun, limbah yang diimpor adalah non-B3. Aturan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 tahun 2016.

Pada aturan itu disebut bahwa limbah non-B3 yang boleh diimpor hanya berupa sisa reja (buangan) dan scrap.

Adapun kebutuhan sampah impor ini berkaitan erat dengan bahan baku industri, salah satunya kertas. Industri ini memakai sampah kertas untuk diolah menjadi kertas baru.

Ecological Observation and Wet Conservation (Ecoton) mencatat setidaknya ada 12 pabrik kertas di Jawa Timur yang menggunakan bahan baku kertas bekas impor.

Permintaan pun meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dianalisis Ecoton menunjukkan, impor sampah kertas yang masuk ke Jawa Timur naik 35 persen pada 2018 dibanding 2017. Total pada 2018 mencapai 738.665 ton.

Batas impuritas akan diturunkan

Kementerian LHK mengusulkan untuk mempertegas batas kontaminan material ikutan (impuritas) pada sampah dan limbah impor untuk bahan baku industri hingga 2 persen.

Bahkan, menurut Menteri Siti, batas itu bisa turun lagi hingga 0,5 persen. Batasan ini berbanding terbalik dengan keinginan industri pengolahan plastik yang menginginkan batas kontaminan dinaikkan sampai 5 persen.

“Dua persen itu facing down, 2 persen ke 0,5 persen dalam waktu dua tahun akan dibahas di eselon satu,” kata Siti.

Sejauh ini, pemerintah belum memiliki aturan batas kontaminan material ikutan. Termasuk di antaranya dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 31 Tahun 2016 tentang impor sampah non-B3.

Makanya, importir nakal menggunakan celah memasukkan sampah plastik yang tak dapat didaur ulang ke Indonesia.

Sumber :
https://beritagar.id/artikel/berita/pemerintah-kesulitan-atasi-impor-sampah-ilegal

Salah satu langkah sederhana untuk mengatasi permasalahan sampah adalah dengan melakukan pemilahan sampah secara mandiri. Caranya dengan menyediakan tempat sampah terpilah, Yuk pilah sampah mulai sekarang

MENGATASI SAMPAH ? YUK LIHAT GERAKAN MANDIRI DI NEGARA-NEGARA INI

Sampah masih menjadi permasalahan diberbagai negara di dunia, termasuk Indonesia di dalamnya. Meski persoalan ini belum tuntas, gerakan masyarakat secara mandiri mengatasi persoalan sampah tak pernah berhenti.

Situs Goodnet.org menulis lima cara kreatif mengolah sampah yang dilakukan di lima negara. Salah satunya di Indonesia.

Lima cara ini bisa menjadi inspirasi di peringatan Hari Peduli Sampah Nasional yang diperingati setiap 21 Februari.

SWEDIA, MENGUBAH SAMPAH JADI SUMBER ENERGI YANG BERMANFAAT

Swedia dikenal dengan perkembangan lingkungannya yang progresif. Negara Skandinavia ini berhasil membangun sistem mengubah sampah menjadi energi yang secara efisien mampu menghasilkan energi panas untuk 950 ribu rumah tangga dan menyediakan listrik bagi 260 ribu rumah.

Swedia mendaur ulang dan memilah-milah sampahnya secara efektif. Hanya sekitar kurang dari 1% sampah saja yang dikirim ke tempat pembuangan akhir.

Dengan paradigma sampah sebagai komoditas, Swedia mengimpor sampah dari negara-negara Eropa untuk memenuhi kebutuhan energinya. Negara tersebut mengubah 700 kg sampah menjadi 250 kg energi dan bahan bakar

Wah, Keren yaaaa ….

UGANDA, MEMBANGUN TAMAN HIBURAN DARI SAMPAH

Seorang seniman dan ahli lingkungan, Ruganzu Bruno, membawa seni ekologis ke daerah kumuh Kampala, Uganda. Bruno tergabung dalam Eco Art Uganda, yang merupakan kumpulan seniman yang berdedikasi untuk mempromosikan kesadaran lingkungan.

Perkumpulan tersebut menciptakan sebuah taman hiburan untuk anak-anak dari bahan-bahan yang dibuang. Contohnya, mereka membuat ayunan dan permainan papan dari botol-botol plastik bekas.

Hal ini mereka lakukan dengan berbagai tujuan seperti mempercantik lingkungan, memberdayakan, dan mengajarkan anak-anak serta tentu saja mendaur ulang dan mengelola sampah secara efektif.

Luar biasa, ternyata sampah bisa jadi cantik yaa

INDIA, SAMPAH PLASTIK UNTUK MENGASPAL JALAN

Profesor Kimia Rajagopalan Vasudevan merancang sebuah cara untuk mengubah sampah plastik menjadi pengganti aspal. Aspal, seperti yang kita ketahui merupakan bahan utama untuk konstruksi jalan.

Melihat peningkatan jumlah sampah plastik di India, Vasudevan pun optimis sampah merupakan harta karun sumber daya yang belum dimanfaatkan.

Sampah plastik ini menggantikan 15% aspal yang otomatis menghemat dana karena plastik lebih murah dibandingkan aspal yang biasa digunakan.

Sebuah inovasi yang luar biasa, ….

HONG KONG, MEMBANGUN ECO-PARK DI ATAS TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH AKHIR

Tempat Pembuangan Akhir Sai Tso Wan dulunya menampung hingga 1.6 juta ton sampah. Sampah ini menumpuk hingga setinggi 65 meter atau sekitar 213 kaki.

Setelah ditutup dengan tanah pada tahun 1981, tempat ini dijadikan taman bermain multiguna pada tahun 2004. Taman bermain ini didukung oleh turbin angin, sel surya dan energi yang berasal dari metana yang dihasilkan dari sampah yang membusuk.

INDONESIA, MENUKAR SAMPAH DENGAN LAYANAN KESEHATAN

Dr. Gamala Albinsaid melihat adanya hubungan antara kesehatan masyarakat dengan tingginya sampah yang terkumpul di Malang, Jawa Timur, Indonesia. Menjadikan sampah sebagi mata uang, ia menciptakan asuransi kesehatan sampah.

Masyarakat bisa menukar sampah dengan pelayanan kesehatan maupun obat-obatan. Tak perlu uang sebagai imbal jasa, cukup dengan membawa sampah.

Bagaimana rekan-rekan sekalian, menarik dan kreatif kan ?  

Semoga Gerakan Masyarakat Mandiri dalam mengelola sampah dapat menginspirasi gerakan-gerakan serupa. Semakin banyak individu-inividu yang melakukan gerakan kreatif ini, akan menjadi semakin baik.

Semakin kita tahu bahwa sampah juga punya nilai jika di daur ulang dan dimanfaatkan kembali untuk kehidupan manusia pada umumnya.  

Semoga gerakan memanfaatkan sampah ini dapat diadopsi menjadi Gerakan Massive yang diprakarsai oleh pemerintah dengan melibatkan semua pihak tentunya, seperti dunia usaha, media, LSM, Ormas, lembaga pendidikan dan lain-lain.

Dan akhirnya menjadikan dunia menjadi lebih baik dan ramah bagi setiap manusia.

Kita pun bisa melakukannya

Dimulai dari pemilahan sampah kita sendiri, bagaimana cara pemilahannya ? Yuk simak disini

TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH YANG BERSIH DAN INDAH ….. Yuk Belajar ke Negeri Tetangga

Sampah saat ini kian menjadi permasalahan yang serius di hampir semua negara di dunia, termasuk Indonesia. Hampir di semua tempat permasalahan yang sangat sering tedengar adalah sampah kian banyak, sebaliknya ketersediaan lahan di sisi lain semakin terbatas.

Banyak kemudian pihak-pihak yang menawarkan alternatif solusi melalui salah satunya konsep Reduce, Reuse dan Recycle, dimulai dari pemilahan antara sampah organik, anorganik, B3, Plastik, Logam. Selain itu, dilakukan juga pemiliahan antara sampah yang masih bisa digunakan (baik lewat industri kreatif maupun pertanian) dan mana yang tidak.

Akan tetapi tantangan masih tetap ada, dan menuntut banyak pihak untuk bersinergi dan lebih berpikir tentang solusi terdepan.

Salah satu negara tetangga kita telah mempunyai jurus jitu dalam penanganan masalah persampahan ini. SINGAPURA.

Siapa tidak kenal dengan negara satu ini, kita dalam belajar banyak hal dari negara ini.

Berbicara tentang negara Singapura pasti tidak lepas dari negara maju, negara kecil, hingga negara modern. Namun, mungkin tidak banyak orang tahu bahwa terdapat fakta-fakta menarik seputar Negara dengan ikon Singa ini. Contohnya, negara ini melarang produksi, konsumsi dan penjualan permen karet. Bahkan yang paling menarik dan belum banyak diketahui adalah Singapura membuat pulau dari sampah.

Ketika negara-negara di sekitar Asia Tenggara berjuang untuk mengatasi tumpukan plastik dan sampah lainnya di darat dan di perairan mereka, tidak untuk Singapura. Singapura adalah salah satu negara yang bisa dibilang sudah menemukan solusi untuk permasalahan sampah negaranya sendiri.

Jalan-jalan di Singapura bersih, taman dan pantainya sebagian besar bebas dari sampah. Penampakan di negara tersebut berbeda dari negara-negara tetangganya. Hampir semua sampah di Singapura yang tidak dapat didaur ulang dibakar. Lalu abu dan beberapa limbah padat dikirim ke pulau buatan di dekatnya yang juga berfungsi sebagai cagar alam bernama Pulau Semakau seperti yang diberitakan oleh Reuters, Jumat (26/4/2019).

Plastik adalah kategori limbah terbesar yang dibuang di Singapura. Menurut data dari Badan Lingkungan Nasional (NEA) tahun lalu ada lebih kurang sekitar 763.400 ton sampah. Dan hanya 6 persen dari 763.400 ton limbah plastik yang dihasilkan didaur ulang. Analisis data NEA menunjukkan bahwa limbah plastik per kapita telah meningkat hampir 20 persen selama 15 tahun terakhir. Pada bulan Maret dikatakan setiap orang di Singapura rata-rata membuang 13 kantong sehari pada tahun 2016.

Negara Singapura memiliki kepadatan populasi tertinggi ketiga di dunia dengan hampir 8.000 orang per kilometer persegi. Negara Singapura berdiri di sebuah pulau kecil, bahkan dulunya mereka sangat kebingungan kemana sampah-sampahnya akan dibuang. Hingga pada akhirnya Singapura menemukan solusi permasalahan mereka sendiri dengan membuat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) lepas pantai pertama.

TPA lepas pantai buatan manusia pertama Singapura, TPA Semakau, adalah solusi sementara untuk masalah itu sampah di negara ini. Ini dirancang untuk menangani sampah dari Singapura untuk memastikan bahwa lingkungan di sekitarnya terlindungi.

Tidak seperti gambaran kebanyakan orang mengenai TPA, TPA lepas pantai Semakau merupakan TPA yang bersih dan indah.

Berikut 4 fakta menarik TPA Pulau Semakau Singapura yang dilansir dari The Smart Local Singapore, Jumat (26/4/2019).

  1. Tak Terlihat Seperti Pulau Sampah

Melihat keindahakan PuLau Semakau, siapa yang akan menyangka kalau pulau ini adalah TPS nya Singapura ?

  • Aman untuk Ekosistem

Walaupun terbuat dari abu pembakaran sampah dan limbah, keberadaan pulau ini tidak mencemari ekosistem di sekitarnya. Bahkan air disana tidak tercemar dan menjadi habitat bagi hewan-hewan laut.

  • Perairan Jernih

Singapura bahkan telah mengantisipasi kebocoran zat-zat berbahaya yang bisa merusak air. Mereka membuat TPA ini menjadi tempat pembuangan dan pengolahan yang ramah lingkungan.

  • Memiliki Peternakan Ikan Terapung
  • Berlawanan dengan kepercayaan umum bahwa tempat pembuangan sampah kotor dan merusak populasi, Singapura justru membuat peternakan ikan apung di sekitar TPA.

Nah bagaimana dengan Indonesia ?

Permasalahan ini merupakan permasalahan bersama, sehingga penyelesaikan memerlukan sinergi dari banyak pihak. Tidak terkecuali kita. Kita bisa memulainya dengan cara yang sangat sederhana yaitu dengan melakukan pemilihan sampah. Yuk kita bermitra

Lingkungan Tidak Sehat Berpotensi Membunuh 12,6 juta jiwa per tahun

Sebagian dari kita akan berpikir bahwa judul di atas mengada-ada atau paling tidak terlalu membesar-besarkan masalah.

Banyak diantara yang menganggap menciptakan lingkungan yang sehat adalah tidak begitu penting dan hanya tugas segelintir orang saja. Padahal kalau lingkungan sekitar kita bersih dan sehat, siapa yang untung ? pasti kita semua kan ?

Saat ini sudah bukan waktunya lagi menunjuk pihak lain yang harus paling berpikir tentang bagaimana membuat sebuah lingkungan menjadi bersih dan sehat, karena itu semua menjadi tanggung jawab kita semua. Kita semua mempunyai tanggung jawab dan peran yang sama besar.

Lingkungan yang tidak sehat bukan hanya tidak enak dipandang mata atau dapat berakibat penyakit. Bukan hanya itu !

Sekitar 12,6 juta jiwa meninggal setiap tahun akibat lingkungan yang tidak sehat. Laporan dari badan kesehatan dunia WHO tersebut memaparkan dampak dari hidup dan bekerja di kondisi lingkungan yang buruk.

WHO mengingatkan bahwa polusi udara, air dan tanah dan juga paparan terhadap bahan kimia, radiasi sinar ultraungu dan dampak perubahan iklim menyebabkan lebih dari 100 penyakit dan cedera yang terjadi pada penghuni planet Bumi.

Dikutip dari Fortune, laporan badan dunia ini menemukan nyaris 25 persen kematian itu disebabkan oleh kondisi tempat tinggal atau tempat kerja yang buruk. Di Eropa angka ini mencapai 1,4 juta kematian setiap tahun.

Anak-anak dan orang dewasa yang berumur antara 50-75 tahun paling merasakan dampak buruk lingkungan, sementara 1,7 juta jiwa anak balita menderita akibat penyakit menular dan penyakit akibat lingkungan yang buruk. Sebanyak 4,9 juta jiwa orang dewasa mati akibat penyakit tidak menular.

Stroke, yang menyebabkan 2,5 juta jiwa melayang setiap tahun, menjadi pembunuh dunia nomor satu dalam hal kematian yang berhubungan dengan lingkungan. Pada urutan berikutnya adalah penyakit jantung yang merenggut nyawa 2,3 juta jiwa.

Selain itu, sebanyak 40 persen kasus asma berhubungan dengan lingkungan yang tidak sehat, dan sebenarnya bisa dikurangi dengan mencegah polusi udara, asap dari rokok orang lain, dan kelembapan ruangan rumah.

Lingkungan yang buruk juga menyumbang 11 persen kasus meninggal akibat depresi, yang sebenarnya bisa dicegah dengan menerapkan keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan rumah yang baik.

WHO mengatakan bahwa para pemimpin dunia harus mulai berinvestasi dalam upaya penurunan risiko lingkungan yang buruk.

Laporan itu juga menyoroti bagaimana langkah-langkah kesehatan dasar dapat menyelamatkan nyawa, karena kematian akibat diare dan malaria telah menurun drastis di dunia sejak akses terhadap air yang bersih dan aman tersedia.

Bahkan apabila kita turut berperan dalam menciptakan lingkungan yang sehat, masing-masing kita juga berkontribusi terhadap lahirnya populasi yang sehat.

Oleh karenanya tidak hanya negara, bahkan kita semua harus segera melakukan aksi
untuk membuat lingkungan sebagai tempat yang sehat untuk hidup dan bekerja. Sebab apabila tidak, jutaan orang akan sakit dan mati muda.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan senantiasa menjaga kebersihan lingkungan terhadap kesehatan baik di perkotaan, pedesaan, kantor pemerintah, perkantoran swasta dan dunia usaha, perumahan serta ruang publik terbuka seperti taman, pelataran parkir, lapangan olah raga dan lain-lain.

Upaya tersebut bisa secara nyata menurunkan angka kematian yang disebabkan karena penyakit kardiovaskular dan pernapasan, luka, dan kanker, dan hal ini akan mengarah pada penghematan biaya perawatan kesehatan.

Dengan uraian di atas, masihkah kita menganggap remeh menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat ?

Solusi Kebersihan senantiasa setia menjadi mitra anda dalam menciptakan lingkungan sehat dan bersih. Yuk simak produk-produknya

5 CARA SEDERHANA JADI PENYELAMAT LINGKUNGAN

Sadarkah kita adalah penyumbang aktif sampah aktif per hari nya ? Yaaa benar sekali …. kita semua !

Setiap harinya tanpa terasa kita “telah menyumbang” kurang lebih 800 gram sampah setiap harinya. Itu berarti dalam setahun kita menyumbang sampah seberat 292 Kg. Baik itu yang temasuk dalam kategori sampah organik, anorganik, plastik, logam atau bahan bahan berbahaya.  

Itu hanya sampah yang dihasilkan oleh satu orang loh, terbayangkan berapa banyaknya sampah yang dihasilkan manusia se Indonesia, bahkan sedunia setiap tahunnya ? Nah karena itulah pentingnya melakukan setiap kita juga berperan dalam pengelolaan sampah di rumah dan lingkungan kerja kita masing-masing.

Tujuan pengelolaan sampah adalah membuat sampah memiliki nilai ekonomi atau merubahnya menjadi bahan yang tidak membahayakan lingkungan. Dengan pengelolaan sampah rumah tangga yang benar, kamu dapat membantu untuk menekan dampak negatif sampah terhadap lingkungan. Begitu pun dengan sampah yang ada di lingkungan kerja kita.

Bagaimana cara pengelolaan sampah yang benar ? Simak caranya :

  1. Pisahkan Sampah Sesuai Dengan Jenisnya

Langkah pertama sistem pengelolaan sampah di rumah adalah memisahkan sampah berdasarkan jenisnya. Secara garis besar kamu dapat memisahkan sampah menjadi dua jenis, yaitu sampah organik dan anorganik.

Siapkanlah dua tempat sampah yang berbeda di rumah yang dikhususkan untuk setiap jenis-jenis sampah. Kalian pasti sudah tahu, sampah organik adalah sampah yang berasal dari alam. Seperti sisa makanan atau daun. Dengan kata lain semua sampah yang dapat terurai dengan mudah adalah sampah organik. Sementara sampah plastik, karet, kaca dan kaleng masuk ke dalam kategori sampah anorganik.

Dengan memisahkan sampah organik dan anorganik, akan memudahkan kamu untuk memudahkan kamu dalam pengelolaan sampah di rumah kamu pada langkah berikutnya.

Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos yang dapat digunakan untuk berkebun.

  • Pengelolaan Sampah Organik

Cara pengelolaan sampah organik yang paling mudah adalah dengan membuatnya menjadi pupuk kompos yang dapat kamu gunakan untuk berkebun. Namun jika kamu tidak suka berkebun atau tidak suka dengan aroma yang ditimbulkan selama pembuatan pupuk kompos, kamu dapat mendonasikan sampah organik ke sahabat yang memiliki hobi berkebun atau penjual tanaman. Karena mereka pasti dengan senang hati menerimanya untuk dibuat menjadi pupuk kompos.

  • Pengelolaan Sampah Anorganik

Sebagian sampah anorganik dapat didaur ulang, seperti kertas, kardus, botol kaca, botol plastik, kaleng dan lainnya. Jika kamu tidak yakin apakah sebuah kemasan makanan dapat didaur ulang atau tidak, kamu dapat memeriksa logo daur ulang pada kemasan makanan tersebut. Jika terdapat logo daur ulang, maka kemasan makanan tersebut dapat didaur ulang. Bawa sampah-sampah anorganik tersebut ke pusat daur ulang sampah terdekat atau kamu juga bisa memberikannya kepada pemulung.

  • Pengelolaan Sampah Berbahaya

Pisahkan sampah-sampah berbahaya untuk dibawa ke pusat daur ulang. Petugas pusat daur ulang pasti tau cara untuk mendaur ulang sampah berbahaya agar tidak merusak lingkungan.

Untuk barang-barang elektronik yang sudah rusak alias menjadi sampah, kamu dapat mengembalikannya ke perusahaan yang memproduksinya. Beberapa perusahaan elektronik menerima barang elektronik bekas untuk mereka daur ulang kembali menjadi produk elektronik baru.

  • Reduce, Reuse and Recycle !

Budayakan gaya hidup Reduce, Reuse and Recycle atau biasa dikenal dengan 3R, dari diri kamu. Biasakan untuk mengurangi pemakaian plastik atau bahan-bahan lain yang sulit terurai. Untuk menghemat penggunaan plastik, kamu bisa baca lebih lengkap di artikel lainnya yang membahas diet sampah plastik.

Kemudian jangan lupa memanfaatkan barang bekas agar bisa digunakan kembali. Seperti memanfaatkan botol plastik bekas untuk dijadikan pot tanaman. Itu hanya salah satu contoh saja. Masih banyak lagi barang bekas yang bisa digunakan kembali dengan ide kreatifmu!

Terakhir, jangan lupa untuk selalu mendaur ulang sampah-sampah yang dapat didaur ulang kembali. Dengan membawa sampah tersebut ke pusat daur ulang, seperti yang telah dibahas mengenai pengelolaan sampah anogarnik di atas.

Memanfaatkan sisa botol plastik untuk dijadikan pot tanaman.

Solusi Kebersihan akan selalu menjadi mitra anda dalam melakukannya. Yuk bermitra